Teori kurikulum

Posted by Setia_hanazawa^^ | Posted in | Posted on 03.15

0

TEORI KURIKULUM

  1. DEFINISI DAN FUNGSI DARI TEORI KURIKULUM

Teori kurikulum sangat penting bagi para ahli dan praktisi, sebab teori ini menyediakan seperangkat konseptual untuk penelitian proposal kurikulum, mampu menjelaskan praktek, dan memandu perubahan Suatu teori kurikulum adalah seperangkat konsep bidang pendidikan yang sistematis yang memperjelas gejala/ aspek kurikulum.

  1. DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM

Langkah-langkah pengembangan teori.menurut Faix'S ( 1964)

    1. Tahap 1 Basic theory adalah suatu langkah awal yang bersifat untung-untungan, di mana suatu teori belum dihubungkan dengan data empiris.

    2. Tahap 2 Middle-Range theory meliputi hipotesis yang telah diuji dengan pengalaman.

    3. Tahap 3 General theory adalah suatu sistem teori umum atau suatu bagan konseptual inclusive untuk menjelaskan suatu keseluruhan alam semesta.

  1. PERAN KEPEMIMPINAN DALAM TEORI KURIKULUM

Kebutuhan akan kepemimpinan dan perencanaan teoritis dalam kurikulum sekolah adalah suatu yang utama dalam pendidikan yang berlevel global. Kurikulum baru perlu difamiliarkan dengan suatu spektrum teori kurikulum yang berkisar dari tingkah laku sampai sikap kritis. Area tinjauan ulang untuk para pemimpin kurikulum masa depan meliputi pengembangan kurikulum, teori dan praktek, dimensi mikro dan makro dalam kurikulum, etos dan pertimbangan budaya, dinamisasi proses kurikulum, pengaruh teknologi pada kurikulum, model dan proses instruksional disain, model dan proses pengembangan strategi belajar, identifikasi dan implementasi metode pengajaran sesuai teknik,model dan teknik penilaian dan proses evaluasi, staf pengembangan yang diperlukan, aplikasi praktek disain kurikulum dan produk hasil kerja praktis per siswa.

  1. PENGGOLONGAN TEORI KURIKULUM

Penggolongan menurut McNeil (1985) yaitu kurikulum sederhana/ mudah dan kurikulum kompleks/ sulit. Pinar (1978) menggolongkan teori kurikulum menjadi 3, yaitu Aliran Tradisional. Tyler memandang kurikulum sebagai kelas, guru, kursus, unit, pelajaran, dan sebagainya. Hirsch memasukkan konsep pengetahuan dasar dan budaya literasi dalam kurikulum sekolah. Aliran Empirisme Konseptual terfokus pada metodologi riset dari ilmu-ilmu eksakta dan mencoba untuk menghasilkan penyamarataan yang akan memungkinkan pendidik untuk mengendalikan dan meramalkan apa yang terjadi di sekolah. Aliran Rekonseptualis, menekankan kesubyektipan, pengalaman eksistensial, dan seni penafsiran dalam rangka mengungkapkan konflik kelas dan hubungan kekuasaan yang berbeda yang ada dalam masyarakat yang lebih besar.

Eisner dan Vallance (1974) menggolongkan teori kurikulum kedalam 5 konsepsi. (1) Kurikulum yang berorientasi pada aspek kognitif, terkait dengan pengembangan intelektual.(2) Kurikulum yang berbasis teknologi, dalam hal ini fungsi kurikulum terutama adalah untuk menemukan alat-alat efisien.(3) Kurikulum yang berorientasi pada aktualisasi diri, memandang kurikulum sebagai pengalaman yang didesain untuk menghasilkan pertumbuhan pribadi.(4) Kurikulum yang berorientasi pada rekonstruksi social, menekankan pada kebutuhan bermasyarakat.(5) Kurikulum berorientasi pada rasionalisme akademis, menekankan pentingnya standard disiplin dalam membantu yang muda berpartisipasi dalam tradisi kultural barat.

Huenecke'S (1982) menggolongkan 4 jenis teori kurikulum, yaitu (1) Teori yang berorientasi pada structural, menganalisis komponen kurikulum dan hubungan timbal balik antarkomponen. (2) Teori yang berorientasi pada nilai, mengutamakan analisis nilai dan asumsi dari pembuatan kurikulum serta produk yang dihasilkan oleh para pembuat kurikulum. (3) Teori yang berorientasi pada isi, berkonsentrasi pada isi dari kurikulum.(4) Teori yang berorientasi pada proses, berkonsentrasi pada bagaimana kurikulum dikembangkan.

  1. TEKNOLOGI SEBAGAI KATALISATOR PERUBAHAN KURUKULUM

Teknologi sebagai katalisator untuk perubahan. Kemajuan teknologi memberi peluang bagi praktisi untuk melakukan penilaian, analisa, disain, pengembangan, implementasi, evaluasi, dan kegiatan lanjujtan. Penggunaan teknologi juga mempromosikan investigasi ketrampilan, belajar lebih menggairahkan, menyediakan peluang untuk menerapkan pengetahuan.Untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil keuntungan dari teknologi yang baru berarti tidak hanya sebatas mereka mempunyai akses terhadap teknologi, tetapi juga memastikan bahwa mereka memiliki pengetahuan yang penting membuat penggunaan teknologi menjadi lebih efektif. Konsep teknologi dengan menggunakan strategi belajar kooperasi dapat dimasukkan sebagai strategi kurikulum.


DEFINISI / HAKIKAT KURIKULUM

Tujuan utama untuk menyediakan ikhtisar bidang kurikulum bagi pembaca dan seperangkat konsep untuk penelitian bidang tersebut. . Fokus dari pembahasan ini adalah melukiskan konsep tentang kurikulum, menguji beberapa jenis kurikulum, membandingkan komponen kurikulum, dan meneliti kurikulum tersembunyi.

  1. KONSEP KURIKULUM

Kurikulum adalah suatu rencana, suatu program yang diharapkan, atau tentang kebutuhan yang diperlukan selama studi berlangsung. Kurikulum mengacu pada suatu rencana tertulis yang menguraikan apa yang akan dipelajari para siswa. Kurikulum adalah suatu metode dan pengetahuan yang ditentukan yang dapat dikomunikasikan. Kurikulum harus dapat diwujudkan dalam kelas riil, misalnya kurikulum yang berbasis pada pengalaman para siswa di bawah bimbingan para guru. Kurikulum menjadi rencana yang dibuat untuk memandu pelajaran didalam sekolah tersebut, yang pada umumnya dalam bentuk dokumen yang retrievable serta aktualisasi semua rencana tersebut didalam kelas.

Beberapa poin yang perlu ditekankan dalam definisi tersebut. Pertama, istilah kurikulum meliputi kedua-duanya (rencana yang dibuat untuk pelajaran dan pengalaman pelajaran yang nyata disajikan). Kedua, kurikulum merupakan retrievable document, yang denotasinya meliputi kurikulum berbasis perangkat lunak komputer maupun internet, juga yang merupakan hasil perumusan kebijakan kurikulum, seperti yang lebih spesifik adalah rencana pelaksanaan pembelajaran. .Ketiga, definisi kurikulum mencakup dua dimensi dari aktualisasi kurikulum, yaitu kurikulum sebagai pengalaman dan kurikulum yang dapat diamati.

  1. JENIS KURIKULUM

  1. Kurikulum Yang Direkomendasikan

Kurikulum yang direkomendasikan oleh sarjana individu, asosiasi profesional, komisi pengawas dan pembuat kebijakan. Dirumuskan lebih umum. Fungsinya lebih ke rekomendasi tentang kebutuhan dan kebijakan, serta mempromosikan hak kekayaan dan keunggulan intelektual mereka untuk semua siswa. Poin yang perlu dipertimbangkan bahwa standar bukanlah suatu kurikulum nasional. Standar adalah suatu usaha untuk menggambarkan apa yang para siswa harus bisa mengetahui dan lakukan. Standard dapat dijumpai melalui suatu variasi strategi dan gaya pengajaran.

  1. Kurikulum Yang Tertulis

Merupakan kurikulum formal, kurikulum yang diharapkan terutama semata-mata untuk memastikan bahwa hasil akhir dari sistem bidang pendidikan sedang terpenuhi. Dirumuskan secara lebih spesifik dan menyeluruh dibanding kurikulum yang direkomendasikan, menandakan suatu dasar pemikiran yang mendukung kurikulum, hasil akhir yang harus tercapai, sasaran khusus untuk dikuasai, urutan dimana sasaran hasil itu harus dipelajari, dan macam aktivitas pelajaran yang harus digunakan.

  1. Kurikulum Yang Didukung

Kurikulum yang direfleksikan dan dibentuk oleh sumber daya

yang dialokasikan untuk mendukung kurikulum tersebut, yaitu alokasi waktu, alokasi personil , buku teks, dan materi pelajaran.

  1. Kurikulum Yang Diajarkan

Kurikulum yang diajarkan merupakan bentuk transfer/ pengiriman isi kurikulum, sebuah kurikulum yang oleh seorang pengamat dilihat sebagai aksi guru mengajar. Dalam hal ini guru harus berpikir, merencanakan, dan membuat keputusan. Keputusan guru tentang kurikulum adalah suatu produk dari banyak variabel saling berinteraksi.

  1. Kurikulum Yang Diuji

Merupakan satuan pelajaran yang ditaksir dalam tes kelas yang dibuat oleh guru dan distandardisasi. Tes yang dibuat harus disesuaikan dengan apa yang diajarkan. Komponen kurikulum menentukan ketepatan antara apa yang diajar dan apa yang dipelajari.

  1. Kurikulum Yang Dipelajari

Istilah kurikulum yang dipelajari digunakan untuk menandakan semua perubahan dalam nilai-nilai, persepsi, dan perilaku yang terjadi sebagai hasil pengalaman sekolah.

  1. KOMPONEN KURIKULUM

Meliputi hasil akhir kurikulum, kebijakan kurikulum, bidang studi, program studi, bahan pengajaran, unit studi, pelajaran.

  1. PENGUASAAN, ORGANIK, DAN PENGAYAAN KURIKULUM

Langkah-langkahnya, (1) membagi pelajaran ke dalam bidang dasar dan bidang pengayaan. Dasar apabila dalam pandangan pendidik dianggap penting bagi semua siswa. Pengayaan mengaju pada pelajaran yang menjadi ketrampilan dan pengetahuan yang menarik dan memperkaya, tetapi tidaklah dianggap begitu penting. (2) membagi dasar pelajaran ke dalam pembelajaran berstruktur dan pembelajaran yang tidak berstruktur. Istilah digunakan di sini, mempunyai empat karakteristik, yaitu peruntunan, perencanaan, hasil terukur, dan isi.

  1. KURIKULUM TERSEMBUNYI

Merupakan kurikulum yang tidak dipelajari. Kurikulum yang tersembunyi dapat dilihat dari aspek yang menyangkut kurikulum yang dipelajari yang berada di luar batasan-batasan dari usaha yang sengaja dibuat oleh sekolah. Salah satu dari kurikulum tersembunyi adalah sekolah sebagai suatu organisasi kelas. Para guru menghabiskan banyak waktu untuk mengevaluasi dan memberi umpan balik yang evaluatif. Dalam hal ini, para siswa tanpa disadari belajar ketrampilan, belajar bagaimana cara tepat pada waktunya, bersih, patuh, dan penyelarasan.

  1. VARIABEL DARI KURIKULUM TERSEMBUNYI

    1. Variabel Organisasi

Digunakan untuk mengangkat semua keputusan tentang bagaimana para guru akan ditugaskan dan para siswa dikelompokkan untuk menjalankan instruksi.

    1. Variabel Sistem Sosial

Sebagai suatu aspek/ pengarah sekolah dalam dimensi social, terkait dengan hubungan orang lain dan kelompok masyarakat.

    1. Variabel Kultur/ Budaya

Digambarkan sebagai dimensi sosial terkait dengan kepercayaan sistem, nilai-nilai, struktur teori, dan maksud/ arti.


KTSP JIKA DITINJAU DARI CURRICULUM THEORY DAN THE NATURE OF CURRICULUM

Landasan Yuridis KTSP

  • UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

  • PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

  • Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi

  • Permendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan

  • Permendiknas No. 24 Tahun 2006 dan Permendiknas No. 6 Tahun 2007 tentang pelaksanaan Permendiknas No. 22 dan 23 Tahun 2006

Argumentasinya bahwa

    1. Dilihat dari mekanisme penyusunannya, KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun secara sistematis dan terperinci yang meliputi penyiapan dan penyusunan draft, review dan revisi, serta finalisasi, serta dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. KTSP. Adapun mekanisme penyusunan KTSP terlihat pada Gambar 6.1

Hal ini selaras dengan konsep curriculum theory dan the nature of curriculum . Di dalam curriculum theory, kurikulum adalah seperangkat konsep bidang pendidikan yang sistematis yang memperjelas gejala/ aspek kurikulum. Sedangkan the nature of curriculum, menjelaskan konsep kurikulum sebagai berikut. Pertama, istilah kurikulum meliputi kedua-duanya (rencana yang dibuat untuk pelajaran dan pengalaman pelajaran yang nyata disajikan). Kedua, kurikulum merupakan retrievable document, yang denotasinya meliputi kurikulum berbasis perangkat lunak komputer maupun internet, juga yang merupakan hasil perumusan kebijakan kurikulum, seperti yang lebih spesifik adalah rencana pelaksanaan pembelajaran. .Ketiga, definisi kurikulum mencakup dua dimensi dari aktualisasi kurikulum, yaitu kurikulum sebagai pengalaman dan kurikulum yang dapat diamati.

Dalam hal ini, KTSP merupakan suatu perencanaan yang dibuat untuk pelajaran sekaligus berisi pengalaman pelajaran riil yang akan dilaksanakan di kelas. Hal ini juga selaras dengan konsep pada curriculum theory, yang memposisikan perencanaan teoritis dalam kurikulum sekolah adalah suatu yang utama. Wujud konkret dari dari aplikasi teori ini bahwa dalam KTSP dikenal adanya Silabus dan RPP dari SK/ KD yang dikembangkan pusat serta Silabus dan RPP dari SK/ KD yang dikembangkan Sekolah.

    1. Dilihat dari acuan operasional penyusunan KTSP, maka KTSP disusun berdasarkan prinsip

  • Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia

Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia menjadi dasar pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh. Kurikulum disusun yang memungkinkan semua mata pelajaran dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia

  • Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik

Kurikulum disusun agar memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat, kecerdasan intelektual, emosional, spritual, dan kinestetik peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.

  • Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan

Daerah memiliki keragaman potensi, kebutuhan, tantangan, dan keragaman karakteristik lingkungan, oleh karena itu kurikulum harus memuat keragaman tersebut untuk menghasilkan lulusan yang dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan daerah.

  • Tuntutan pembangunan daerah dan nasional

Pengembangan kurikulum harus memperhatikan keseimbangan tuntutan pembangunan daerah dan nasional.

  • Tuntutan dunia kerja

Kurikulum harus memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan kebutuhan dunia kerja, khususnya bagi mereka yang tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

  • Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni

Kurikulum harus dikembangkan secara berkala dan berkesinambungan sejalan dengan perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

  • Agama

Kurikulum harus dikembangkan untuk meningkatkan toleransi dan kerukunan umat beragama, dan memperhatikan norma agama yang berlaku di lingkungan sekolah

  • Dinamika perkembangan global

Kurikulum harus dikembangkan agar peserta didik mampu bersaing secara global dan dapat hidup berdampingan dengan bangsa lain.

  • Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan

Kurikulum harus mendorong wawasan dan sikap kebangsaan dan persatuan nasional untuk memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  • Kondisi sosial budaya masyarakat setempat

Kurikulum harus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian keragaman budaya.



  • Kesetaraan Jender

Kurikulum harus diarahkan kepada pendidikan yang berkeadilan dan mendorong tumbuh kembangnya kesetaraan jender.

  • Karakteristik satuan pendidikan

Kurikulum harus dikembangkan sesuai dengan visi, misi, tujuan, kondisi, dan ciri khas satuan pendidikan.

Adapun di dalam curriculum theory dan the nature of curriculum menyangkut pada peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik, keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan, tuntutan dunia kerja, perkembangan iptek, dinamika perkembangan global, persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan (idiologi kebangsaan), kondisi sosial budaya masyarakat setempat (variable kulture), kesetaraan jender (nondiskriminasi).

Penyusunan visi, misi, dan tujuan satuan pendidikan dalam KTSP juga selaras dengan curriculum theory dan the nature of curriculum, yang menyangkut (1) apa yg hrs dicapai siswa berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap setelah mereka menamatkan sekolah (hasil belajar siswa), (2) suasana pembelajaran seperti apa yg dikehendaki untuk mencapai hasil belajar itu (suasana pembelajaran), (3) suasana sekolah yang seperti apa seperti apa yg diinginkan untuk mewujudkan hasil belajar bagi siswa (sekolah sebagai lembaga/ organisasi pembelajaran).

3. Dilihat dari komponen KTSP yang meliputi

  • Tujuan Pendidikan Sekolah

  • Struktur dan Muatan Kurikulum (mata pelajaran. Muatan lokal, Pengembangan Diri, Beban Belajar, Ketuntasan Belajar, Kenaikan Kelas dan kelulusan, Penjurusan, Pendidikan Kecakapan Hidup, Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global).

  • Kalender Pendidikan

  • Silabus dan RPP

Hal ini juga selaras dengan komponen kurikulum yang ditawarkan the nature of curriculum, yang meliputi hasil akhir kurikulum, kebijakan kurikulum, bidang studi, program studi, bahan pengajaran, unit studi, pelajaran. Analisisnya bahwa keempat komponen dalam KTSP tersebut merupakan hasil dari kebijakan kurikulum baik yang merupakan hasil buatan guru, buatan sekolah maupun buatan pemerintah. Di dalam tujuan pendidikan sekolah juga memuat mengenai hasil akhir atau sasaran yang akan dicapai/ dikehendaki atas pelaksanaan kurikulum tersebut. Kemudian di dalam Silabus dan RPP tercakup bidang studi, program studi, bahan pengajaran, unit studi, pelajaran, dll.

Mata pelajaran dalam KTSP berisi “Struktur Kurikulum Tingkat Sekolah yang disusun berdasarkan kebutuhan siswa dan sekolah terkait dengan upaya pencapaian SKL. Hal ini senada dengan kedua teori diatas yang meyatakan bahwa kurikulum harus disusun berdasarkan kebutuhan siswa dan sekolah. Adapun persamaan pengembangan struktur kurikulum pada keduanya adalah terletak pada alokasi waktu pembelajaran dan adanya jenis mata pelajaran muatan lokal dalam struktur kurikulum sekolah.

Pemanfaatan alokasi waktu tersebut mempertimbangkan potensi dan kebutuhan peserta didik dalam mencapai kompetensi. Muatan lokal ini mencerminkan perlunya variable budaya dan sosial dalam kurikulum. Dalam KTSP, muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sesuai dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah.

Adapun pengembangan diri dan pendidikan kecakapan hidup dalam KTSP terkait dengan kurikulum tersembunyi. Sebab keduanya tidak termasuk dalam struktur kurikulum yang secara khusus direncanakan/ dibuat. Keduanya juga bukan mata pelajaran sehingga tidak perlu dibuat SK, KD, dan Silabus. Pengembangan diri dalam KTSP bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, bakat, minat peserta didik, dan kondisi sekolah. Sedangkan pendidikan kecakapan hidup bertujuan untuk membekali peserta didik dengan kecakapan personal, sosial, akademik dan vokasional/ keterampilan.

4. Dilihat dari Muatan/ Subtansinya

Substansi KTSP memuat tiga aspek yang selaras dengan subtansi kurikulum yang dijelaskan dalam curriculum theory maupun the nature of curriculum, yaitu (1) kognitif/ pengetahuan, menyangkut hal-hal yang sifatnya akademik (2) afektif/ sikap dan nilai, menyangkut pembentukan dan perubahan sikap dan pola tingkah laku (3) psikomotorik/ keterampilan.

5. Persamaan antara KTSP dengan curriculum theory maupun the nature of curriculum adalah adanya tuntutan akan kebebasan dalam menentukan kurikulum di sekolah oleh warga sekolah, adanya partisipasi guru; partisipasi keseluruhan atau sebagian staf sekolah; rentang aktivitasnya mencakup seleksi (pilihan dari sejumlah alternatif kurikulum), adaptasi (modifikasi kurikulum yang ada), dan kreasi (mendesain kurikulum baru); perpindahan tanggung jawab dari pemerintah pusat (bukan pemutusan tanggung jawab); proses berkelanjutan yang melibatkan masyarakat; dan ketersediaan struktur pendukung (untuk membantu guru maupun sekolah).

Kendala- Kendala Pelaksanaan KTSP

  • Guru-guru masih kekurangan informasi dan juga stimulus mengenai pengembangan kurikulum berbasis sekolah

  • Dominasi kepala sekolah yang berlebihan atas keputusan pengembangan kurikulum

  • Masih banyak guru-guru yang berpersepsi sebagai penerima-pasif pengambilan keputusan kurikulum.

  • Persoalan keahlian pengembangan kurikulum warga sekolah, dimana masih banyak guru yang masih kekurangan pengetahuan dan pengalaman tentang pengembangan kurikulum.

Sumber: www.google.com






















pengantar pendidikan 1

Posted by Setia_hanazawa^^ | Posted in | Posted on 23.15

0

Pendahuluan

Banyak upaya-upaya peningkatan kemampuan Sumber Daya Manusia di lingkungan instansi pemerintah melalui berbagai pelatihan. Upaya tersebut pada umumnya dilakukan oleh Badan atau Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIKLAT) instansi yang bersangkutan. Namun demikian, tidak sedikit pula pengembangan Sumber Daya Manusia tersebut dilakukan melalui kegiatan pelatihan di dalam kegiatan proyek. Pelatihan-pelatihan tersebut pada umumnya diikuti oleh staf atau karyawan instansi yang bersangkutan. Pada umumnya mereka adalah "orang dewasa" yang telah mempunyai berbagai pengalaman baik dalam bidang pekerjaannya maupun pengalaman lain dan mempunyai latar belakang yang beragam.
Tentu saja untuk menghadapi peserta pelatihan yang pada umumnya adalah "orang dewasa" dibutuhkan suatu strategi dan pendekatan yang berbeda dengan "pendidikan dan pelatihan" ala bangku sekolah, atau pendidikan tradisional. Pendidikan ala sekolah ini sering disebut dengan pendekatan Pedagogis. Seringkali, dalam praktek banyak "pendekatan pedagogis" diterapkan dalam pendidikan dan pelatihan bagi aparat pemerintah, yang seringkali tidak cocok. Untuk itu, dibutuhkan suatu pendekatan yang lebih cocok dengan "kematangan", "konsep diri" peserta dan "pengalaman peserta". Di dalam dunia pendidikan, strategi dan pendekatan ini dikenal dengan "Pendidikan Orang Dewasa" (Adult Education).


Pengertian

Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul "The Adult Learner, A Neglected Species" mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan. Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno "aner", dengan akar kata andr- yang berarti laki-laki, bukan anak laki-laki atau orang dewasa, dan agogos yang berarti membimbing atau membina. Disamping itu, ada istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah "pedagogi", yang ditarik dari kata "paid" artinya anak dan "agogos" artinya membimbing atau memimpin. Maka dengan demikian secara harafiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak.
Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Pada awalnya, bahkan hingga sekarang, banyak praktek proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa.

Dengan demikian maka kalau ditarik pengertiannya sejalan dengan pedagogi, maka andragogi secara harafiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training / Teaching).


Asumsi-Asumsi Pokok

Malcolm Knowles dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:
  • Konsep Diri : Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination), mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis yang dalam agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sifatnya sementara. Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan.

  • Peranan Pengalaman : Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan "Experiential Learning Cycle" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman) Hal in menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik kepelatihan. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapang, melakukan praktek dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta atau partisipasi peserta pelatihan.

  • Kesiapan Belajar : Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi. Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pelatihan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peranan sosialnya.

  • Orientasi Belajar : Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa. Selain itu, perbedaan asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih tinggi. Hal in menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.


Beberapa Implikasi Untuk Praktek


Dari uraian tersebut di atas telah diperoleh dan disimpulkan beberapa perbedaan teoritis dan asumsi yang mendasari andragogi dan pedagogi (konvensional) yang menimbulkan berbagai implikasi dalam praktek.
Dalam pedagogi atau konvensional, karena berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation) maka implikasi yang timbul pada umumnya peranan guru, pengajar, pembuat kurikulum, evaluator sangat dominan. Pihak murid atau peserta pelatihan lebih banyak bersifat pasif dan menerima. Paulo Freire, menyebutnya sebagai "Sistem Bank" (Banking System). Hal ini dapat terlihat pada hal-hal sebagai berikut :
  • Penentuan mengenai materi pengetahuan dan ketrampilan yang perlu disampaikan yang bersifat standard dan kaku.
  • Penentuan dan pemilihan prosedur dan mekanisme serta alat yang perlu (metoda & teknik) yang paling efisien untuk menyampaikan materi pembelajaran.
  • Pengembangan rencana dan bentuk urutan (sequence) yang standard dan kaku
  • Adanya standard evaluasi yang baku untuk menilai tingkat pencapaian hasil belajar dan bersifat kuantitatif yang bersifat untuk mengukur tingkat pengetahuan.
  • Adanya batasan waktu yang demikian ketat dalam "menyelesaikan" suatu proses pembelajaran materi pengetahuan dan ketrampilan.
Dalam andragogi, peranan guru, pengajar atau pembimbing yang sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar, yang kemudian dikenal dengan pendekatan partisipatif, dalam proses belajar yang melibatkan elemen-elemen:

  • Menciptakan iklim dan suasana yang mendukung proses belajar mandiri.
  • Menciptakan mekanisme dan prosedur untuk perencanaan bersama dan partisipatif
  • Diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar yang spesifik
  • Merumuskan tujuan-tujuan program yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar
  • Merencanakan pola pengalaman belajar
  • Melakukan dan menggunakan pengalaman belajar ini dengan metoda dan teknik yang memadai
  • Mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhan-kebutuhan belajar. Ini adalah model proses.
Oleh karena itu dalam memproses interaksi belajar dalam pelatihan orang dewasa kegiatan dan peranan fasilitator bukanlah memindahkan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta pelatihan. Peranan dan fungsi fasilitator adalah mendorong dan melibatkan seluruh peserta dalam proses interaksi belajar mandiri, yaitu proses belajar untuk memahami permasalahan nyata yang dihadapinya, memahami kebutuhan belajarnya sendiri, dapat merumuskan tujuan belajar, dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajarnya sesuai dengan perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu.

Dengan begitu maka tugas dan peranan fasilitator bukanlah memaksakan program atau kurikulum dari atas, dari instansi, dari dinas, yang mereka buat di atas meja terlepas dari kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi.

Langkah-Langkah Pokok Dalam Pelatihan Partisipatif (Andragogi)
Berdasarkan pada implikasi andragogi untuk praktek dalam proses pembelajaran kegiatan pelatihan, maka perlu ditempuh langkah-langkah pokok sebagai berikut:

Menciptakan Iklim Pembelajaran yang Kondusif
Ada beberapa hal pokok yang dapat dilakukan dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan suasana yang kondusif untuk proses pembelajaran, yaitu :

  • Pengaturan Lingkungan Fisik : Pengaturan lingkungan fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa terbiasa, aman, nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman mungkin:
    • Penataan dan peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa
    • Alat peraga dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik orang dewasa
    • Penataan ruangan, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan terjadinya interaksi sosial
  • Pengaturan Lingkungan Sosial dan Psikologis : Iklim psikologis hendaknya merupakan salah satu faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan didukung.
    • Fasilitator lebih bersifat membantu dan mendukung
    • Mengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan Bina Suasana dan berbagai permainan yang sesuai
    • Menciptakan suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut.
    • Mengembangkan semangat kebersamaan
    • Menghindari adanya pengarahan dari "pejabat-pejabat" pemerintah
    • Menyusun kontrak belajar yang disepakati bersama

  • Diagnosis Kebutuhan Belajar : Dalam andragogi tekanan lebih banyak diberikan pada keterlibatan seluruh warga belajar atau peserta pelatihan di dalam suatu proses melakukan diagnosis kebutuhan belajarnya:
    • Melibatkan seluruh pihak terkait (stakeholder) terutama pihak yang terkena dampak langsung atas kegiatan itu
    • Membangun dan mengembangkan suatu model kompetensi atau prestasi ideal yang diharapkan
    • Menyediakan berbagai pengalaman yang dibutuhkan
    • Lakukan perbandingan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang ada, misalkan kompetensi tertentu


Proses Perencanaan

Dalam perencanaan pelatihan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama yang akan terkena dampak langsung atas kegiatan pelatihan tersebut. Tampaknya ada suatu "hukum" atau setidak tidaknya suatu kecenderungan dari sifat manusia bahwa mereka akan merasa 'committed' terhadap suatu keputusan apabila mereka terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan:
  • Libatkan peserta untuk menyusun rencana pelatihan, baik yang menyangkut penentuan materi pembelajaran, penentuan waktu dan lain-lain
  • Temuilah dan diskusikanlah segala hal dengan berbagai pihak terkait menyangkut pelatihan tersebut
  • Terjemahkan kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi ke dalam tujuan yang diharapkan dan ke dalam materi pelatihan.
  • Tentukan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pihak terkait siapa melakukan apa dan kapan.


Memformulasikan Tujuan

Setelah menganalisis hasil-hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang disepakati bersama dalam proses perencanaan partisipatif. Dalam merumuskan tujuan hendaknya dilakukan dalam bentuk deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas.


Mengembangkan Model Umum

Ini merupakan aspek seni dan arsitektural dari perencanaan pelatihan dimana harus disusun secara harmonis antara beberapa kegiatan belajar seperti kegiatan diskusi kelompok besar, kelompok kecil, urutan materi dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu harus diperhitungkan pula kebutuhan waktu dalam membahas satu persoalan dan penetapan waktu yang sesuai.


Menetapkan Materi dan Teknik Pembelajaran

Dalam menetapkan materi dan metoda atau teknik pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  • Materi pelatihan atau pembelajaran hendaknya ditekankan pada pengalaman-pengalaman nyata dari peserta pelatihan
  • Materi pelatihan hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan berorientasi pada aplikasi praktis
  • Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat pemindahan pengetahuan dari fasilitator kepada peserta
  • Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih bersifat partisipatif.


Peranan Evaluasi

Pendekatan evaluasi secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Ada beberapa pokok dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa yakni:
  • Evaluasi hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah mengikuti proses pembelajaran / pelatihan
  • Sebaiknya evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta pelatihan itu sendiri (Self Evaluation)
  • Perubahan positif perilaku merupakan tolok ukur keberhasilan
  • Ruang lingkup materi evaluasi "ditetapkan bersama secara partisipatif" atau berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat.
  • Evaluasi ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan program pelatihan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan program
  • Menilai efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku.

Hakikat pendidikan

Posted by Setia_hanazawa^^ | Posted in | Posted on 22.44

0

Apa sih hakikat pendidikan? Apakah tujuan yang hendak dicapai oleh institusi pendidikan?

Agak miris lihat kondisi saat ini. Institusi pendidikan tidak ubahnya seperi pencetak mesin ijazah. Agar laku, sebagian memberikan iming-iming : lulus cepat, status disetarakan, dapat ijazah, absen longgar, dsb. Apa yang bisa diharapkan dari pendidikan kering idealisme seperti itu. Ki hajar dewantoro mungkin bakal menangis lihat kondisi pendidikan saat ini. Bukan lagi bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa (seperti yang masih tertulis di UUD 43, bah!), tapi lebih mirip mesin usang yang mengeluarkan produk yang sulit diandalkan kualitasnya.

Pendidikan lebih diarahkan pada menyiapkan tenaga kerja "buruh" saat ini. Bukan lagi pemikir-pemikir handal yang siap menganalisa kondisi. Karena pola pikir "buruh" lah, segala macam hapalan dijejalkan kepada anak murid. Dan semuanya hanya demi satu kata : IJAZAH! ya, ijazah, ijazah, ijazah yang diperlukan untuk mencari pekerjaan. Sangat minim idealisme untuk mengubah kondisi bangsa yang morat-marit ini, sangat minim untuk mengajarkan filosofi kehidupan, dan sangat minim pula dalam mengajarkan moral.

Apa sebaiknya hakikat pendidikan? saya setuju dengan kata mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi, ini masih harus diterjemahkan lagi dalam tataran strategis/taktis. kata mencerdsakan kehidupan bangsa mempunyai 3 komponen arti yang sangat penting : (1) cerdas (2) hidup (3) bangsa.

(1) tentang cerdas
Cerdas itu berarti memiliki ilmu yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan real. Cerdas bukan berarti hapal seluruh mata pelajaran, tapi kemudian terbengong-bengong saat harus menciptakan solusi bagi kehidupan nyata. Cerdas bermakna kreatif dan inovatif. Cerdas berarti siap mengaplikasikan ilmunya.

(2) tentang hidup
Hidup itu adalah rahmat yang diberikan oleh Allah sekaligus ujian dari-Nya. Hidup itu memiliki filosofi untuk menghargai kehidupan dan melakukan hal-hal yang terbaik untuk kehidupan itu sendiri. Hidup itu berarti merenungi bahwa suatu hari kita akan mati, dan segala amalan kita akan dipertanggungjawabkan kepada-Nya. Patut dijadikan catatan, bahwa jasad yang hidup belum tentu memiliki ruh yang hidup. Bisa jadi, seseorang masih hidup tapi nurani kehidupannya sudah mati saat dengan snatainya dia menganiaya orang lain, melakukan tindak korupsi, bahkan saat dia membuang sampah sembarangan. Filosofi hidup ini sangat sarat akan makna individualisme yang artinya mengangkat kehidupan seseorang, memanusiakan seorang manusia, memberikannya makanan kehidupan berupa semangat, nilai moral dan tujuan hidup.

(3) tentang bangsa
Manusia selain sesosok individu, dia juga adalah makhluk sosial. Dia adalah komponen penting dari suatu organisme masyarakat. Sosok individu yang agung, tapi tidak mau menyumbangkan apa-apa apa-apa bagi masyarakatnya, bukanlah yang diajarkan agama maupun pendidikan. Setiap individu punya kewajiban untuk menyebarkan pengetahuannya kepada masyarakat, berusaha meningkatkan derajat kemuliaan masyarakat sekitarnya, dan juga berperan aktif dalam dinamika masyarakat. Siapakah masyarakat yang dimaksud disini? Saya setuju bahwa masyarakat yang dimaksud adalah identitas bangsa yang menjadi ciri suatu masyarakat. Era globalisasi memang mengaburkan nilai-nilai kebangsaan, karena segala sesuatunya terasa dekat. Saat terjadi perang Irak misalnya, seakan-akan kita bisa melihat Irak di dalam rumah. Tapi masalahnya, apakah kita mampu berperan aktif secara nyata untuk Irak (selain dengan doa ataupun aksi)? Peran aktif kita dituntut untuk masyarakat sekitar...dan siapakah masyarakat sekitar? tidak lain adalah individu sebangsa.

WAJAH PENDIDIKAN SAAT INI

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat signifikan dalam sebuah kehidupan berbangsa. Pendidikan merupakan media strategis dalam memacu kualitas sumber daya manusia. Namun, pendidikan di tanah air sampai saat ini masih terus menimbun berbagai masalah. Meskipun berganti aparat birokrat dan orde pemerintahan, dunia pendidikan tak kunjung lepas dari permasalahan klasik baik menyangkut kualitas, daya jangkau masyarakat terhadap pendidikan, budi pekerti siswa, minimnya anggaran pendidikan yang disediakan pemerintah hingga minimnya minat belajar siswa.
Kualitas pendidikan kita pun masih terpuruk. Berdasarkan data hasil penelitian di Singapura (September 2001) menempatkan sistem pendidikan nasional pada urutan 12 dari 12 negara Asia bahkan lebih rendah dari Vietnam. Sementara hasil penelitian program pembangunan PBB (UNDP) tahun 2000 menunjukkan kualitas SDM Indonesia berada pada urutan 109 dari 174 negara, jauh dibandingkan dengan negara tetangga Singapura (24), Malaysia (61),Thailand (76) dan Philipina (77).
Kondisi lebih memprihatinkan bila melihat laporan dari International Institute of Management Development pada tahun 2000 yang menyebutkan, dari 48 negara yang diukur, daya saing SDM Indonesia menempati urutan ke-47, sementara Thailand 34, Filipina 32, Malaysia 27, Singapura 2. Salah satu faktor penting yang menyebabkan rendahnya peringkat HDI Indonesia adalah angka partisipasi pendidikan. Data dari Balitbang Depdiknas menyebutkan angka partisipasi murni (APM) pada jenjang SD/MI 94,44, SLTP/MTs 54,81, dan SLTA 31,46. Angka yang diperoleh Indonesia itu masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga. Angka partisipasi kombinasi pendidikan dasar, menengah, dan tinggi Indonesia sekitar (64%), Malaysia 65%, Singapura 73%, Filipina 82%, dan Korea Selatan 90%.
Walaupun angka partisipasi murni SD di Indonesia dalam kurun 20 tahun meningkat, kualitasnya sulit dibanggakan. Kini puluhan ribu anak SD harus belajar di sekolah bobrok. Ironinya, sampai saat ini belum terjawab, bagaimana Pemerintah menangani persoalan yang sangat kasatmata itu; sementara masih banyak anak usia SD yang putus sekolah atau malah belum terjangkau sama sekali oleh pelayanan pendidikan. Wajib belajar 9 tahun secara kuantitatif pun sulit bisa dituntaskan pada tahun 2008.
Angka partisipasi murni SLTP baru sekitar 60% dan angka putus sekolah sangat mengkhawatirkan. Sekitar 10% angka buta huruf berasal dari penduduk Indonesia yang berusia 10 tahun ke atas. Dari hasil studi kemampuan membaca untuk tingkat SD yang dilaksanakan oleh organisasi International Educational Achievement (IEA) menunjukkan bahwa siswa SD Indonesia berada pada urutan ke-38 dari 39 negara peserta studi. Sementara untuk tingkat SLTP, studi untuk kemampuan matematika siswa Indonesia pada urutan ke-34 dari 38 negara. Untuk kemampuan IPA pada urutan ke-32 dari 38 negara peserta. Kurang seriusnya pembangunan pendidikan nasional itu juga tercermin dari kurangnya penghargaan terhadap guru.
Dunia pendidikan tinggi kita juga terpuruk. Berdasarkan peringkat universitas terbaik di Asia versi majalah Asiaweek 2000, tidak satu pun perguruan tinggi di Indonesia masuk dalam 20 terbaik. UI berada di peringkat 61 untuk kategori universitas multidisiplin. UGM diperingkat 68, UNDIP diperingkat 77, UNAIR diperingkat 75; sedangkan ITB diperingkat 21 untuk universitas sains dan teknologi, kalah dibandingkan dengan Universitas Nasional Sains dan Teknologi Pakistan.
Melihat realitas pendidikan Indonesia saat ini sama dengan menangis, semuanya hanya melahirkan kisah sedih sampai hari ini. Tapi kalau kita sedih namum tidak menggugah kita melakukan sesuatu, maka tangisan generasi berikutnya adalah tangisan “berdarah” dan kita seharusnya disebut sebagai angkatan biadab yang tidak melakukan perbaikan apapun di negeri ini. Momentum hari pendidikan nasional tahun ini seharusnya menjadi tonggak dan refleksi bersama untuk kemajuan masa depan pendidikan, bukan justru diskursus politik, perebutan kekuasaan, dan perdebatan yang cenderung menyapu atmosfer kesadaran kita, melupakan urgensi pendidikan untuk masa depan bangsa atau menjadikan pendidikan sekedar wacana atau jualan jelang pilkada atau pemilu.

“Pabaliut berarti seperti benang kusut, perlu upaya sungguh-sungguh dan kesabaran untuk bisa mengurai benang kusut.”

Sungguh para guru harus berbesar hati untuk mengakui bahwa kualitas pendidikan saat ini memang sudah berada dalam kondisi yang memprihatinkan, salah satu faktor signifikan dari rendahnya kualitas pendidikan adalah masih rendahnya kualitas profesional sebagian besar guru-guru. Jadi saat ini bukan saatnya guru terlalu banyak menuntut tanpa kita berusaha untuk memperbaiki kualitas profesional kita.

Tetapi tentunya bukan hanya guru yang harus berusaha memperbaiki diri, semua komponen yang terlibat dalam dunia pendidikan juga harus terus berusaha untuk memperbaiki diri. Apalah artinya guru yang profesional tetapi berada dalam sistem yang pabaliut.

Langkah-langkah apa saja untuk memperbaiki kualitas pendidikan di masa depan :

  1. Merombak kurikulum LPTK, LPTK harus seperti STAN atau AKABRI. Mahasiswa di jaring melalui suatu selekksi yang komprehensif kemudian setiap mahasiswa mendapat tunjangan ikatan dinas dan di asramakan, sebab selain penguasaan terhadap materi bidang studi , seorang guru adalah pendidik yang harus menguasai psikologi maupun pengetahuan dan pengalaman untuk pengembangan karakter.Calon guru harus juga dibekali dengan kepribadian yang paripurna. Jangan seperti sekarang ini banyak calon guru yang lulus dari kelas karyawan kelas jauh yang hanya belajar setiap hari sabtu selama 6 jam kemudian ujiannya gotong royong dimana kuliah hanya merupakan kegiatan formalitas untuk mengejar ijazah bagi mahasiswa dan untuk mengejar materi bagi para pengelolanya.
  2. Law enforcement, penegakkan hukum baik yang berupa undang-undang maupun peraturan di bidang pendidikan. Sekarang ini undang-undang bagus-bagus demikian juga peraturan tetapi semua itu hanya tersimpan di lemari pembuat kebijakan tanpa pernah dilaksanakan secara sungguh-sungguh.
  3. Jauhkan seleksi penerimaan guru dari praktek-praktek KKN. Seleksi penerimaan guru harus dilaksanakan dengan profesional menggunakan jasa konsultan atau perusahaan atau LPTK/Universitas dengan materi seleksi yang mengarah pada kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, jangan seperti sekarang ini seleksi guru selain dipenuhi dengan praktek KKN juga materi seleksi tidak mengarah kepada menilai kompetensi yang harus dimiliki seorang guru.
  4. Buat peraturan yang membatasi jumlah siswa di kelas , kemudian lengakapi fasilitas standar yang harus dimiliki sekolah
  5. Birokrasi yang mengelola pendidikan harus benar-benar memahami fungsi dan tugas mereka. Jangan seperti sekarang ini ada Kepala Dinas Pendidikan yang karirnya bukan berasal dari dunia pendidikan. Buatlah peraturan misalnya ;

a. kepala dinas pendidikan kabupaten harus berpengalaman sekurang-kurangnya10 tahun menjadi guru dan 10 tahun menjadi kepala sekolah serta menunjukkan prestasi yang luar biasa selama menjadi guru dan kepala sekolah.

b. Kepala dinas pendidikan kecamatan dan seterusnya juga harus diberi syarat seperti di atas sehingga yangmenjadi pejabat birokrasi pendidikan benar-benar mereka yang berpengalaman dan mengerti pendidikan.

Demikialah beberapa langkah yang menurut hemat saya dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

Sumber: www.google.com